Headlines News :
Home » » Sekelumit Sejarah Pulau Untung Jawa

Sekelumit Sejarah Pulau Untung Jawa

Written By Puja Rojali on Sabtu, 15 Agustus 2009 | 05.22

Informasi
Terbentuknya Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu telah ditetapkan oleh Undang Undang Nomor 54 Tahun 1999. Kepulauan Seribu telah ditingkatkan statusnya yang tadinya dari sebuah kecamatan menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di perairan Teluk Jakarta. Adapun penamaan dari “Pulau Seribu/Kepulauan Seribu” itu sendiri bukan berarti pulaunya ada seribu. Melainkan hanyalah sebuah nama dari kabupaten untuk gugusan pulau-pulau di Teluk Jakarta.
Sebutan Pulau Seribu/Kepulauan Seribu sudah ada sejak tempo doeloe. Mungkin orang-orang tempo doeloe itu menghitung pulau tidak dengan teknologi yang ada pada zaman sekarang. Mereka hanya memperkirakan pulau-pulau yang berada di Utara Kota Jakarta ada seribu karena banyaknya. Maka terjadilah penyebutan Pulau Seribu/Kepulauan Seribu itu (red).
Untuk kita ketahui, bahwa Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini terdiri atas 108 buah pulau yang besar dan kecil. Pulau-pulau ini terbagi atas 2 kecamatan dan 6 kelurahan. Dari keenam kelurahan itu salah satunya akan diceritakan adalah Pulau Untung Jawa.
Pulau Untung Jawa yang mempunyai luas daratan hanya 40,10 Ha. yang dibagi atas 9 RW (Rukun Warga) dan 9 RT (Rukun Tetangga) pada saat ini dihuni oleh ± 1.782 jiwa (477 KK) yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional. Mereka menangkap ikan dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana, seperti : pancing dan bubu (perangkap ikan).
Pulau Untung Jawa walau hanya sebagai pulau pemukiman namun pada tiap-tiap hari libur begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik. Kebanyakan mereka yang datang hanya untuk menikmati suasana bahari dengan biaya yang terjangkau. Karena jarak dan letak pulau ini sangat strategis hanya menempuh jarak 3,5 mil dengan kecepatan rata-rata 30 menit dari Pantai Tanjung Pasir.
Sekelumit Sejarah
Pada usianya yang cukup tua (kurang lebih telah 6 generasi), Pulau Untung Jawa menyimpan sekelumit sejarah pada seputar Pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang. Saat negara kita dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda, ternyata pulau-pulau yang berada di sekitar wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa telah dihuni oleh orang-orang pribumi yang berasal dari daratan Pulau Jawa. Sejak tahun 1920-an wilayah ini dipimpin oleh seorang yang biasa dikenal dengan sebutan Bek (lurah).
Bek Fi’i dan Bek Kasim yang berdomisili di Pulau Kherkof (sekarang Pulau Ubi> telah tenggelam) adalah orang yang telah memimpin di beberapa pulau. Pulau-pulau yang dipimpinnya antara lain : Pulau Amiterdam (Pulau Untung Jawa), Pulau Middbur (Pulau Rambut > sekarang sebagai Pulau Suaka Margasatwa), Pulau Rotterdam (Pulau Ubi Besar), Pulau Schiedam (Pulau Ubi Kecil), Pulau Purmerend (Pulau Sakit/Pulau Bidadari), Pulau Kherkof (Pulau Kelor), Pulau Kuiper (Pulau Cipir/Pulau Khayangan), dan Pulau Onroust/Pulau Sibuk (Pulau Undrus ).
Sekitar tahun 1930-an Bek Fi’i dan Bek Kasim pun digantikan oleh Bek Marah. Beliulah yang menganjurkan rakyatnya yang tinggal di Pulau Kherkof untuk berpindah ke salah satu pulau yakni Pulau Amiterdam. Sebab saat itu Pulau Kherkof hampir tenggelam karena telah terkikis dimakan oleh air laut (abrasi).
Perjalanan menuju Pulau Amiterdam hanya menggunakan perahu layar yang memakan waktu ± 8 jam. Penduduk Pulau Amiterdam ternyata memerima kedatangan masyarakat Pulau Kherkof yang sebagian besar penduduknya berasal dari daratan Pulau Jawa (Daerah Betawi) dengan senang hati.
Diantara sekian banyak penduduk Pulau Amiterdam yaitu: Cule, Kemple, Derahman, Derahim, Selihun, Sa’adi, Saemin dan lain-lain menganjurkan agar segera memilih lahan dan menggarapnya untuk mereka tempati. Lama kelamaan Pulau Amiterdam berganti nama dengan sebutan Pulau Untung Jawa yang berarti pulau keberuntungan bagi orang-orang yang dari daratan Pulau Jawa saat itu.
Berakhirnya nama Amiterdam berakhir pula kepemimpinan Bek Marah yang kemudian digantikan oleh Bek Midih yang masa kepemimpinannya selama ± 10 tahun dan kemudian diganti oleh Bek Markasan lalu Bek Saenan.
Sekitar tahun 1940-an tibalah saat kemalangan bagi penduduk Pulau Untung Jawa. Yaitu datangnya serangan nyamuk secara besar-besaran. Karena tak tahan dengan penderitaan penduduknya maka Bek Saenan menyarankan untuk pindah ke Pulau Ubi Besar (Pulau Rotterdam). Namun penderitaan sepertinya tiada pernah berhenti. Konon ketika itu untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja terasa sulit. Karena kebutuhan pokok yang biasa mereka beli dari Pasar Ikan – Sunda Kelapa menjadi jarang didapat. Ini semua diakibatkan boikot pada perang melawan Tentara Nippon (Jepang) yang menjajah saat itu.
Tahun 1945 merupakan tahun yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh Bangsa Indonesia. Pasalnya pada tahun itu Bangsa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari belenggu penjajah yang kemudian membawa segala perubahan baru bagi Bangsa Indonesia. Perubahan itu sangat dirasakan oleh masyarakat Kepulauan Seribu.
Perubahan sistem pemerintahan yang bukan lagi Hindia Belanda ataupun Jepang telah berubah total menjadi Pemerintah Republik Indonesia. Perubahan mekanisme kepemerintahan tersebut memberikan dampak kebijakan baru bagi kepemimpinan di Kepulauan Seribu. Kemudian panggilan Bek-pun berubah menjadi dengan sebutan Lurah. Perubahan kebijakan dari kepemimpinan seorang bek tentunya lain pula dengan kebijakan kepemimpinan seorang lurah. Akhirnya Bek Saenan telah digantikan dengan lurah pertama di Pulau Untung Jawa – Kepulauan Seribu yang bernama Lurah Maesan.
Hari berganti hari bulan pun demikian, tanpa disadari Pulau Ubi Besar tak luput dari ancaman abrasi yang diciptakan gelombang pasang air laut. Atas prakarsa Lurah Maesan dan dengan persetujuan pemerintah yang saat itu sudah Pemerintah Indonesia mereka hijrah untuk yang kedua kalinya ke Pulau Untung Jawa.
Tepat tanggal 13 Pebruari 1954 Bapak Lurah bersama warganya berinisiatif mendirikan sebuah tugu peringatan kepindahannya yang terletak persisi di tengah-tengah pulau itu. Mulai saat itu semakin banyak kemajuan-kemajuan yang dirasakan masyarakat Pulau Untung Jawa. Kemudian Pemerintah DKI Jakarta pun tidak akan tinggal diam memperhatikan kemajuannya hingga kini.
Lama sudah kepemimpinan Lurah Maesan dan kemudian digantikan oleh lurah-lurah lainnya. Nama-nama lurah yang memimpin setelah Lurah Maesan hingga sekarang antara lain: Lurah Muran, Lurah Asmawi, Lurah Marzuki, Lurah Syafi’i, Lurah Abdul Manaf, Lurah Machbub Sanadi, Lurah Haman Sudjana, Lurah Ambas, Lurah Slamet Riyadi, S.Sos., Agus Irwanto, AP, M.Si. dan sekarang Lurah Eko Suroyo, M,Si.

Keterangan:

* Terjadinya abrasi disebabkan oleh sifat alam dan ulah tangan manusia itu sendiri.
* Sumber sekelumit sejarah ini didapat dari para pendahulu yang sekarang telah almarhu (orang-orang tua dulu yang ada di Pulau Untung Jawa) dan kutipan dari buku-buku sejarah Pulau Onroust – Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta tahun 1994.
* Naskah sekelumit sejarah ini mulai dikumpulkan dari tahun 1989 dan disusun oleh Tim Pengelola Wisata Pulau Untung Jawa dan bantuan instansi terkait.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

G R A T I S ...!

Sticker Ekslusif Pulau Untung Jawa,
bagi setiap pengunjung yang datang
ke Pulau Untung Jawa dengan menghubungi Koordinator Web.
(khusus pengikut paket wisata ronbongan minimal 30 orang)
 
Terimakasih atas kunjungan Anda. Silahkan untuk berkunjung dilain kesempatan...!